Jumat, 22 Juli 2016

Menjelajah Dunia Kafka

Liburan, ada beberapa buku baru yang gue beli, salah satunya Dunia Kafka. Novel ini terjemahan karya Haruki Murakami dengan judul Kafka on the Shore, di indonesia diterbitkan oleh penerbit alvabet. Gue jarang denger nama penerbitnya itu--setelah browsing-browsing, mereka masuk circlenya republika.

Nah, gue akan bahas--dan sedikit ngereview kalau bisa--Dunia Kafka ini. Sebelum beli versi terjemahan bahasa indonesianya, gue udah lebih dulu baca terjemahan Inggrisnya, beli di playstore. Ini novel plotnya terbagi dua, karena bukan hanya satu tokoh yang diceritakan. Tapi seperti halnya 1Q84 (karya Murakami yang satunya), meski berbeda jalan cerita, kisah mereka bersinggungan dalam beberapa aspek. Pertama-tama novel ini menceritakan tentang Kafka Tamura, bocah 15 tahun, yang kabur dari rumah--alasannya karena ingin mencari sang ibu dan kakaknya yang pergi meninggalkannya sewaktu kecil (kalau menurut blubnya sih gitu, tapi sebenernya sepemahaman gue doi ga bener-bener pengen nyari ibu dan kakaknya). Kabur, tinggal di perpustakaan lalu satu mengalami berbagai peristiwa (ga akan gue jelasin satu-satu, selain takut spoiler, terlalu banyak kejadiannya buat diulas). Kedua, menceritakan tentang Nakamura, seorang lansia yang tidak begitu pintar (SPOILER ALERT: karena suatu peristiwa di masa lalu) tapi bisa berbicara dengan kucing. Kemampuannya ini membuatnya jadi pencari kucing hilang profesional. Saat mencari kucing, tidak sengaja ia membunuh orang, lalu pergi ke kota dimana Kafka kabur.

Seperti yang gue bilang, dua orang tokoh utama kita ini ga pernah ketemu, tapi jalan hidup mereka bersinggungan satu sama lain.

Kurang lebih begitu yang bisa gue gambarin dari isi novelnya.

Novel ini, bergenre surealis, suspense, fantasi, dan... supranatural? Tapi jangan bayangin hal-hal chunnibyou kayak lo baca Harry Potter. Di sini ga ada naga atau tongkat sihir. Kurang lebih, ini kisah tentang pelarian untuk memaknai hidup, tapi ga bisa secara sederhana dikatakan seperti itu. Sebab, seperti pada tulisan-tulisan Murakami yang gue baca, unsur nihilistiknya kental banget. Tapi di satu sisi, elemen di novel ini banyak banget, ada humor, ada satirnya, ada (banyak) misterinya--selain itu penuh dengan metafora, meski kadang gue bacanya ga pernah tau apa yang dikiaskan tapi gue rasa itu semacam metafora (penulis review macam apa ini).

Yang gue suka dari tulisan Murakami adalah narasinya, gaya ceritanya yang flow like  a river. Tenang, menghanyutkan, tanpa sadar dia membawa lo terjun bersama dengan air terjun. Kemudian tanpa sadar lo benar-benar tenggelam dalam ceritanya dan terputus dari dunia nyata. Meski di cerita ini ada banyak hal yang ga dijelaskan secara gamlang, malah ada yang ga dijelaskan sama sekali. Yang jelas, seperti kehidupan, mungkin hal itu memang ga seharusnya dijelaskan--dan tetap jadi misteri.

Ini gue mau nulis kata mutiara atau ngr-review sih?

Well, tapi namanya juga novel terjemahan, selalu aja ada hal-hal yang bikin gue ga puas. Engga, engga, mereka menerjemahkannya dengan cukup baik--CUMA, gue ga bisa nerima beberapa hal. Pertama, Y U USE OLD SPELLING? Kedua, Y USE OLD TERM? Men, gue berasa kayak baca buku terjemahan tahun 90an kebelakang. Ketiga, KENAPA LO GA MENYESUAIKAN DENGAN KONVERSINYA. Jadi kebanyakan novel Murakami yang diterbitin di Indonesia, adalah versi terjemahan dari terjemahan bahasa Inggrisnya. Well, tapi ga terlalu mengkhawatirkan, sebab, setahu gue Murakami ikut aktif dalam menerjemahkan novel-novelnya ke dalam bahasa Inggris. Beliau juga, berusaha memodifikasi gaya narasinya menjadi ke-barat-baratan. Nah, karena itu, kurensi di dalam novel adalah dolar, bukan yen, meski ini settingnya 100% di Jepang. Bukan hanya kurensi, tetapi juga satuannya. Dalam bab 4 (POSSIBLE SPOILER ALERT) di versi terjemahan Inggrisnya tertulis seperti ini: "...all of them had temperature just below 97 degrees. Somewhere about 96..." ketika lo baca ini in English, otomatis lo berpikir satuannya adalah fahrenheit. Becuz, murricans do not use Système International--mereka ga pake Si. So that's why, buat yang nerjemahin Kafka on the shore harus perhatikan betul hal ini. Dalam versi terjemahan alvabet, dituliskan seperti ini: "...suhu tubuh mereka antara 96 derajat celcius..." celcius. Yak. 97 derajat celcius. GA MATENG TUH ANAK ORANG?

Ckckck. Jujur aja, ini cukup memberi gue keresahan. Ga tau apakah gue sepantasnya merasa seperti itu, yang jelas pas baca bab-bab awal itu cukup mengganggu gue. Bikin gue ga enjoy baca ceritanya. Padahal ini Murakami lho, mas, HARUKI MURAKAMI LHO, MAS. Toh, in the end, gue mencoba untuk mengabaikan masalah-masalah seperti itu, dan mencoba menikmati alur ceritanya. Good thing is, secara keseluruhan, alvabet menerjemahkannya cukup baik, aura Murakaminya kerasa banget, padahal kalau di buku-buku terjemahan lain, sering kali terjadi reduksi beberapa kata, sehingga sedikit banyak merubah makna kata dan kalimat. Tapi ini engga, kok, cukup baik.

Satu lagi yang buat gue resah itu covernya. Jarang2 kan, gue ngomentarin cover? Maksud gue, gila, ini desain cover bukunya berantakan bet. Terutama font judulnya--kenapa harus itu? Gue ga tau nama fontnya sori--warnanya tabrakan sama bgnya pulak. Gimana yak, meski menerbitkan salah satu novel fenomenal karya penulis terkenal, menurut gue itu sangat tidak menjual--ga eye catching. Bandingkan dengan versi terjemahan bahasa inggrisnya--ada beberapa versi, tapi kebanyakan sederhana dan ngena. Gue ga tau apa gue berhak komentarin ini, tapi yah, sekedar kritik aja, mungkin mau dicetak ulang.

Mau ngasih rating tapi tiba-tiba gue ngerasa ga pantes buat ngasih rating (siapa gue?). Yang jelas, dari ketiga buku yang gue beli itu, ini yang paling gue suka. Baca Dunia Kafka, serasa gue jadi teman seperjalanannya, ngikutin susah senengnya, menghadapi kesulitannya. Pas selesai baca, gue berasa kosong, sepi, serasa di tinggal temen. Gue nangis. Maaf kalo lebay. Hahaha

Well, postingan ini akhirnya ga jadi kayak review... tapi wathevalah, yang penting ada konten buat blog. Ini buku recommended banget buat dibaca, meski aga susah buat ngerti plotnya mau kemana dan gimana. Tapi seperti yang gue bilang, kayak hidup, ga perlu maksa buat ngerti, nikmatin aja...

Nb: edit later. Kaco bet ngetik di hp

Selasa, 12 Juli 2016

Gue doyan banget ngegambar, dari bocah. Sayangnya gambar gue ga pernah bagus--dan yang patut disayangkan pula, gue jarang latihan. Ada saat-saat dimana gue ga ngegambar sama sekali. Entah emang sibuk beneran, atau gue yang terlalu malas dan milih nge-scroll layar hp atau browser /てへぺろっ(´ω`❤)

Hobi gue ini gegara gue baca komik. Awalnya candy-candy punya tante gue (yang sukses gue ilangin itu komik) terus tokimeki tonight-nya Koi Ikeno (gils jaman bahuela banget tuh manga). Terus lanjut ke zaman kejayaan nakayoshi (men dulu itu harganya 10.000 doang). Pokoknya, gue doyan gambar. Dari dulu masih jelek, sampe... sekarang juga jelek.

Beda dari temen-temen gue, gue ga (atau belum?) ada niatan sama sekali buat jadiin ini profesi. Pure just for pun--i mean fun. Mungkin karena ga ambisius-ambisius amat, makanya gue jarang latihan. Sampe detik gue nulis ini entri, gue belum bisa gambar orang lebih dari torsonya, gue juga belum bisa gambar tangan, jangan ngomongin prespektif sama gue, apalagi latar.

But somehow, gue kepengen banget bisa gambar, makanya liburan ini gue ngegambar mulu. Kebanyakan sih gue ngegambar hasben gue (huehue)--yah, gue pengen bisa gambar untuk sebatas muasin fantasi gue (tolong jangan mikir yang engga-engga). Gue emang bisa nunggu orang buat bikin fanart/beli komisi dari illustrator, TAPI ga ada yang jauh lebih memuaskan kalau lo bisa mewujudkan impian lo sendiri. Ya kan?

Sama halnya dengan nulis, kalau bisa tembus ya alhamdulillah. Kalo engga ya keep aja buat bahan pembelajaran. Semua gue lakukan tanpa tujuan yang ambisius. Entah, gue kehilangan ambisi setelah masuk kuliah ga tau kenapa...

Anw, ini sedikit contoh gambar gue, ga bagus. Tapi kalau memang ada reader di luar sana... *berseru pada kehampaan di depan* plz tell me what you think... (maafkan kualitas kamera yang shitty ini)

Jadi yah, beberapa bulan belakangan ini gue main otome voltage inc--kebanyakan yang versi party-nya. Buat yang belum tau, otome voltage inc itu ada dua versi, pertama yang full game (berbayar) dan ada yang tipe social (party). Yang party ini bisa main gratis tapi kita bisa beli beberapa item buat memperlancar mainnya. So anyway, gue main salah satu game party-nya, judulnya Be My Princess.  Gim ini udah di publis versi full-gamenya, tapi mereka juga publis versi partynya. Dari semua game voltage inc, jujur aja Be My Princess paling ga menarik buat gue. Ga tau kenapa, tapi toh gue mutusin buat mainin dan milih rutenya si Prince Roberto. Alesan kenapa gue milih dia, karena kepribadiannya yang cheerful. Tapi bukan berarti dia bener-bener bikin gue klepek-klepek kayak hasben-hasben di gim lain. Tapi yah, barusan gue main dan adegan ini muncul. Sumpah, gue ga nyangka...

Sayang reaksi si MC ga kayak reaksi gue sebenernya. Si gue ngakak sampe perut gue sakit, tapi si MC kalem aja ga ketawa. Alhasil si Roberto kecewa juga, yah, kekurangan otomenya voltage sih, MC-nya kadang terlalu 'Nadeshiko'--tipikal wanita Jepun yang kalem dan lemah lembut. Tapi ga semua gim begitu sih karekter MCnya. Kapan-kapan gue bahas, di post lain... maybe?

Senin, 11 Juli 2016

All You Need is Read this book

Salam.

Gue baru aja menyelesaikan "All You Need is Kill" yang ditulis Hiroshi Sakurazaka.
Setelah keliling-keliling berbagai toko buku di berbagai wilayah, akhirnya gue mendapatkan buku ini di Kinokuniya Plaza Senayan (itu pun karena dibelikan, bukan nyari sendiri)

Yak, buku yang diterbitkan Haika Soru (bahasa Inggris bukunya, btw) mengalami perubahan judul dan covernya.

Sebelumnya buku ini terbit dengan judul aslinya, tapi setelah diadaptasi menjadi film buku ini diterbitkan dengan judul yang sama dengan filmnya "Edge of Tomorrow".
Waktu buku ini akhirnya ada di tangan gue, gue mikir: "Pantes gue cari susah ketemu."
Mungkin judulnya diubah untuk mendongkrak jumlah penjualannya.


Cover asli:


ilustrasi oleh Yoshitoshi Abe



Yang gue punya:



Tapi ga masalah selama mereka engga merubah isinya.

Novel yang bergenre military sci-fi ini berkisah tentang seorang prajurit muda, Kiriya Keiji (kalau di novel, mereka balik namanya jadi Keiji Kiriya) yang bergabung dalam UDF untuk berperang melawan alien (?) yang mereka sebut "Mimics".
Tapi Keij terjebak dalam suatu time loop dimana jika ia terbunuh dalam pertempuran, dia akan terbangun dan kembali mengulang hari kemarin.
Selama time loop tersebut, Kiriya memutuskan untuk berlatih dan memperkuat dirinya agar bisa memenangkan perang melawan "Mimics" ini.
Kemudian, pada pertarungannya yang ke 157--atau 156 gue aga lupa--dia belajar kalau dia bukan satu-satunya orang yang pernah mengalami fenomena tersebut.
Rita Vrataski, prajurit wanita yang dikenal dengan julukan Full Metal Bitch, juga pernah mengalami time loop dan bersama Rita, Keiji berusaha keluar dari pengulangan waktu yang terasa sangat membunuhnya itu.

Ketertarikan gue dengan judul ini bermula saat gue ngeliat trailer filmnya. Kemudian salah satu teman gue memberi tahu kalau film itu adalah adaptasi dari light novel. Gue memang belum sempat nonton filmnya, tapi karena penasaran akhirnya gue browsing dan menemukan judul asli LN-nya.

Gue semakin tertarik setelah gue baca manganya. Adaptasi manganya dilakukan oleh Takeshi Obata (illustrator), Ryousuke Takeuchi (storyboard), dan bedasarkan desain karakter oleh Yoshitoshi Abe.

Manganya:




Sekarang kita mulai ulasannya.

Seperti yang gue sebutkan di atas, novel ini bergenre military science fiction tapi berhubung ini light novel, jadi ngga terlalu banyak istilah-istilah militer yang bikin bingung. Dan karena gue baca manganya duluan baru LN, ga terlalu sulit membayangkan settingnya. Tapi--deskripsi mengenai mimic, harus gue akui memang sedikit sulit membayangkannya. Dalam buku, (SPOILER ALERT) disebutkan bahwa mimic  adalah "...giant bloated frogs with 4 legs, a tale, and a hard endoskeleton." gue bener-bener have no idea gimana bentuknya alien itu. Dalam manganya, obata menggambarkan mimics seperti bulu babi raksasa, punya mulut dan melontarkan javelin sebagai senjatanya. Di film, bentuknya lebih mirip seperti yang dideskripsikan di buku--cuma entah kenapa gue tetep ga ngerasa sreg sama wujudnya.

Terjemahan bahasa Inggrisnya bagus, mereka tetap bisa mempertahankan penulisan khas LN Jepun tapi juga menambah sentuhan gaya penulisan western. Buat yang Englishnya pas-pasan kayak gue, kosakatanya juga tidak sulit--well, it's LN afterall. Jalan ceritanya juga khas Shounen-Shounen gimana gitu (apa sih) seru dan manly buat diikutin. Perihal logic--berhubung gue ga terlalu paham sama sains, gue ga bisa komentar banyak. Cuma agak heran sedikit sih, dalam bukunya, Keiji melakukan hal-hal yang ga jauh beda ketika loop yah, kayak (SPOILER ALERT) latihan sama Farell, minta dibikinin axe sama Shasta, paling cuma diakhir-akhir dia interaksi sama Rita--mendekati ending (MAJOR SPOILER ALERT) si Mimics ini memutuskan untuk nyerang pangkalan duluan. Di sini gue mikir "kok ga dari loop-loop sebelumnya aja sih?" yah, ternyata masih banyak plot hole juga di LN ini. Mungkin karena mau ada sekuel? Entah, kita tunggu aja.

Overall, I really love this LN. Terutama saat gue lagi in the mood sama yang bertema military (saat baca ini gue lagi rajin main Kancolle). Bacaannya singkat, bisa diselesaiin sehaian--akau kurang mungkin? Tapi setelah lo tamatin LN ini timbul perasaan "Men, gue pengen baca lagi" dan ga banyak buku yang bisa bikin gue merasakan hal tersebut. Well, tergantung orang sih, karena ketika gue nulis review ini pun, sulit menyingkirkan ke-vvibu-an gue. Jadi kalau dibilang objektif ya, kurang... hahaha. tapi izinkan gue ngasih rating buat novel ini:

4/5

Pokoknya, buku in recommended banget buat kalian yang mau baca sci-fi, tapi ga mau pusing, atau kalian yang lagi nyari-nyari LN bagus nan berkualitas. Perlu kalian ketahui, review ini seharusnya dipublis 2 Tahun yang lalu.. terpaksa ditunda, karena satu hal dan yang lainnya. Jadi, maaf kalau terlalu singkat dan kurang objektif. Tapi semoga masih cukup buat gambaran kalian ya, haha.


Rabu, 23 Juli 2014

I'm back with some qualified entry (Touche Alchemist review)

Jadi gue nulis ini beberapa jam setelah sahur (gue menulis entri ini bulan puasa tahun 2014) jujur saja, semalaman gue susah bisa tidur dan gue belum tidur sama sekali bahkan ketika gue mulai menulis dua baris dari postingan ini.

Kesalahan kedua yang gue lakukan adalah gue minum kopi saat sahur. Alhasil sekarang jantung gue berdegup tak karuan akibat kafein yang terkandung dalam kopi tersebut. (Tuhan, semoga gue tidak jantungan).

Semalaman tidak tertidur, gue memilih menghabiskan waktu--sembari menunggu waktu sahur--dengan membaca beberapa buku yang siangnya gue beli. Buku yang gue baca pada malam itu judulnya Tocuhe Alchemist yang ditulis oleh Windhy Puspitadewi.



Sedikit info, gue jarang menikmati teenlit (yup, Touche Alchemist adalah sebuah teenlit saudara-saudara) pasalnya sepengetahuan gue teenlit itu isinya kisah romansa remaja (sepengetahuan gue loh ya dulu gue juga sempet baca beberapa judul teenlit) dan ketika gue baca buku ini, pandangan gue berubah sama sekali mengenai teenlit.

Bisa dibilang Touche Alchemist adalah teenlit paling keren yang pernah gue baca.

Buku ini menceritakan tentang seorang remaja keturunan Jepang-Inggris bernama Hiro Morrison yang menjadi konsultan kepolisian New York (yah, latar belakangnya di USA) karena kejeniusan dan bakat spesialnya: mengetahui unsur kimia suatu benda dengan hanya menyentuhnya. Dalam novel ini ia membantu Detektif Hudson dalam menyelesaikan beberapa kasus, khususnya peristiwa pengeboman berantai yang terjadi di beberapa daerah di NY.


Untuk sebuah novel bergenre misteri, Nona Windhy ini menuliskannya dengan simple dan sederhana. Dia tidak memakai kosakata yang rumit, cocok untuk mereka yang ngga suka dipusingkan dengan diksi yang selangit atau semacamnya. Trik-trik yang digunakan pada kasus yang ia tangani sangat klasik, somehow mengingatkan gue sama Detective Conan, Sherlock Holmes, Poirot, dan kisah detektif lainnya, dan Nona Windhy ini menuliskannya dengan sangat baik. Meski ada beberapa bagian yang sedikit kok-kayaknya-maksa-banget-buat-disambungin tapi akhirnya masuk akal juga kok. Dalam novel ini Windhy banyak mengangkat unsur-unsur kima--maklum itu semua karena kekuatan Hiro--jadi kalau lo adalah pemaca yang duduk di bangku SMA--tepatnya jurusan IPA--buku ini mungkin akan membantu lo untuk mengingat pelajaran di sekolah. Hahaha, tunggu, bukan dalam artian membosankan tapi menyenangkan. Serius!
Sama seperti beberapa novel misteri yang udah gue baca, entah kenapa gue bisa menebak siapa pelakunya (bukan karena perhitungan atau pertimbangan logis gue pake feeling wakakak) mungkin karena ada adegan yang ditonjolkan jadi pembaca kurang lebih bisa menerka siapa pelakunya.

Oh iya karakter yang ada dalam buku ini juga dangat menarik.

Hiro digambarkan sebagai pemuda jangkung dan kurus dengan perawakan seperti orang Asia pada umumnya. Dia jenius mampus, bisa berpikir deduksi secara cepat, di umurnya yang baru 18 tahun dia sudah mengambil magister di University of Colombia. Dan seperti kebanyakan orang jenius pada umumnya, Hiro bersifat (bisa dikatakan) sombong, cuek, dan percaya diri tingkat ionosfer. Dalam bertugas sebagai konsultan, dia biasa mengulum lolipop--membantunya berpikir katanya. Ketika baca, karakter Hiro ini somehow mengingatkan gue dengan beberapa tokoh detektif fiksi lainnya (seperti L, Oreki Houtarou, Sherlock Holmes, Yakumo) gue jadi berpikir apa iya setiap karakter yang digambarkan jenius selalu bersikap acuh-tak acuh, pede tingat dewa, sombong mampus seperti itu?

Well, it doesn't matter actually sih...

Hubungan antara Hiro dan Karen digambarkan sangat dekat dengan cara yang unik. Bisa dibilang Hiro itu sedikit tsundere? (entahlah gue juga tidak menemukan istilah yang cocok untuk menggambarkannya).

Dan yang sangat gue sayangkan adalah kok pairingnya mainstream amat sih, atau harus banget ya Karen sama Hiro dipasangin? Bukannya apa-apa hanya saja (ini pendapat pribadi gue sih) gue sedikit kurang suka dengan cerita yang pairingnya gampang ditebak. Tapi yah, lagi-lagi tidak masalah, sebab Nona Windhy tidak terlalu menonjolkan unsur romancenya di cerita ini. Baru dijelaskan bahwa Hiro tertarik dengan Karen di bab-bab terakhir. Meskipun kalau gue lebih suka kalau mereka tetap berteman. Wahahaha.

Kesimpulannya, buku ini worthed banget. Jauh melebihi ekspektasi gue. Gue memang bukan tipikal yang menikmati teenlit, tapi setelah membaca buku ini jadi pengen baca judul-judul lain.
Jadi nilai yang akan gue berikan adalah:

4.5 dari 5

YAAAAAAAAAAAY

Nah, demikianlah review yang alakadarnya ini (dan tidak memenuhi kaidah resensi yang diharuskan--masa bodolah) tapi gue harap cukup membantu.

SALAM!



Donatchan

Picture source: goodreads.com